Senin, 21 Desember 2015

Killer Boy (Chapter II)

Killer Boy
(Chapter II)

Kini sudah jam tiga pagi. Mengapa aku tidak bisa terbenam dalam tidur walau hanya satu kedip. Aku hanya terus berfikir dan terduduk di hadapan meja kerjaku. Kugambar sketsa tiap rumah korban yang menjadi tempat terjadinya pembunuhan tersebut. Seluruh pengalamanku seperti tidak berarti disini. Bagaimana bisa tempat kejadian begitu bersih sehingga tidak ada siapapun yang berhak disalahkan. Mataku mulai berat dan akhirnya tertidur tanpa ku sadari.
Handphone ku kembali berbunyi pada pagi harinya. Ronie menelponku lagi.
"James.. Apa kau ada waktu?"
"Untuk apa? Aku punya satu abad lagi jika kau ingin membahas tentang kasus ini. Jika kau hanya ingin bersantai aku hanya punya 1 jam." Jawabku.
"Hahaha. Bagaimana kalau keduanya? Aku tunggu kau dicafe biasa untuk sarapan." Ajak Ronie

"Baiklah. Aku juga agak lapar. Aku tiba disana 30 menit lagi." Jawabku.
Aku sudah tiba di cafe itu 25 menit setelahnya. Ronie sepertinya belum hadir disana. Hingga akhirnya aku berjalan masuk ke cafe dan memesan satu cangkir kopi hitam beserta donat coklat. Ku lihat jam tanganku dan ternyata sudah pukul tujuh pagi. Cafe pagi ini cukup ramai dan aku memilih satu meja berkursi dua yang berada diluar cafe. Sengaja aku tak memilih meja didalam cafe karena Ronie adalah seorang perokok aktif. Nantinya dia akan mengepulkan asap rokoknya sambil menghirup kopi yang dia pesan.
Aku menunggu disana hingga akhirnya Ronie datang 5 menit kemudian. Dia melambaikan tangan ke arah ku lalu segera masuk ke dalam cafe. Setelah beberapa saat dia keluar dari dalam cafe lalu berjalan ke arahku kemudian duduk tepat dihadapanku.
"Kini apa kesimpulanmu James? Kau tahu? Kepolisian menunggu keputusan dari dirimu. Kau yang menyelidiki kasus ini dan berarti kau yang harus mengatakan siapa yang bersalah. Tentunya dengan bukti yang jelas dan masuk akal." Ujar Ronie.
"Lalu kau berfikir aku menyembunyikan sesuatu? Jika aku mengetahui sesuatu pastilah kau yang paling awal aku beri tahu." Jawabku.
"Hahaha maaf. Mungkin terlalu cepat ya untuk menarik kesimpulan. Aku akan bertanya yang lain saja. Lalu siapa yang kau curigai?" Tanya Ronie.
"Ku pikir terlalu awal untuk menunjuk seseorang mengingat sangat sedikit bukti yang kita dapat. Bila ada yang ingin aku curigai itu adalah dirimu." Jawabku lagi.
"Selera humor mu buruk James. Lagi pula untuk apa kau mencurigaiku?" Tanya Ronie sambila sedikit tertawa.
"Aku curiga bahwa kau tidak percaya bahwa aku akan menemukan pelakunya." Jawabku.
"Hahaha bukan begitu James. Kau tahu? Semua berfikir kasus ini sangat membingungkan. Tidak ada satupun bukti DNA si pelaku yang tertinggal. Hanya ada jejak kaki misterius seorang anak kecil. Pembunuhan ini seperti dilakukan oleh hantu." Ujar Ronie sambil mengepulkan rokok yang baru dibakarnya.
"Kau tahu? Setiap kasus yang ku tangani selalu ada pelaku berbentuk manusia jika kau bilang ini hantu maka aku tidak percaya karena tidak pernah ada hantu di setiap kasus yang ku tangani." Jawabku.
Kami kembali terdiam dan menunggu masing-masing untuk bicara namun tak ada yang menyebutkan satu kata pun kali ini. Hingga akhirnya Handphone Ronie pun berdering. Ronie mengangkatnya dan berbicara bahwa ia sedang bersamaku di cafe. Ternyata ia mendapat panggilan ke kantor.
Ronie mematikan rokoknya dan memasukannya ke dalam asbak yang tersedia di meja cafe tersebut.
"Aku pergi dulu. Malam ini mungkin kau harus menginap dirumahku. Ku rasa aku cukup takut untuk tinggal sendiri malam ini." Ujar Ronie sambil berdiri dan melangkah pergi.

Aku terdiam dan hanya menatap ke arah asbak di meja kami yang kosong. Lalu melihat kesamping meja kami dan ada seorang anak kecil dan ibunya yang sedang sarapan. Mungkin aku juga harus kembali ke kantor.

1 komentar: