Killer Boy
(Chapter II)
Kini
sudah jam tiga pagi. Mengapa aku tidak bisa terbenam dalam tidur walau hanya
satu kedip. Aku hanya terus berfikir dan terduduk di hadapan meja kerjaku. Kugambar
sketsa tiap rumah korban yang menjadi tempat terjadinya pembunuhan tersebut.
Seluruh pengalamanku seperti tidak berarti disini. Bagaimana bisa tempat
kejadian begitu bersih sehingga tidak ada siapapun yang berhak disalahkan. Mataku
mulai berat dan akhirnya tertidur tanpa ku sadari.
Handphone
ku kembali berbunyi pada pagi harinya. Ronie menelponku lagi.
"James..
Apa kau ada waktu?"
"Untuk
apa? Aku punya satu abad lagi jika kau ingin membahas tentang kasus ini. Jika
kau hanya ingin bersantai aku hanya punya 1 jam." Jawabku.
"Hahaha.
Bagaimana kalau keduanya? Aku tunggu kau dicafe biasa untuk sarapan." Ajak
Ronie
"Baiklah. Aku juga agak lapar. Aku tiba disana 30 menit lagi." Jawabku.
Aku sudah
tiba di cafe itu 25 menit setelahnya. Ronie sepertinya belum hadir disana. Hingga
akhirnya aku berjalan masuk ke cafe dan memesan satu cangkir kopi hitam beserta
donat coklat. Ku lihat jam tanganku dan ternyata sudah pukul tujuh pagi. Cafe pagi
ini cukup ramai dan aku memilih satu meja berkursi dua yang berada diluar cafe.
Sengaja aku tak memilih meja didalam cafe karena Ronie adalah seorang perokok
aktif. Nantinya dia akan mengepulkan asap rokoknya sambil menghirup kopi yang
dia pesan.
Aku
menunggu disana hingga akhirnya Ronie datang 5 menit kemudian. Dia melambaikan
tangan ke arah ku lalu segera masuk ke dalam cafe. Setelah beberapa saat dia
keluar dari dalam cafe lalu berjalan ke arahku kemudian duduk tepat dihadapanku.
"Kini
apa kesimpulanmu James? Kau tahu? Kepolisian menunggu keputusan dari dirimu. Kau
yang menyelidiki kasus ini dan berarti kau yang harus mengatakan siapa yang
bersalah. Tentunya dengan bukti yang jelas dan masuk akal." Ujar Ronie.
"Lalu
kau berfikir aku menyembunyikan sesuatu? Jika aku mengetahui sesuatu pastilah
kau yang paling awal aku beri tahu." Jawabku.
"Hahaha
maaf. Mungkin terlalu cepat ya untuk menarik kesimpulan. Aku akan bertanya yang
lain saja. Lalu siapa yang kau curigai?" Tanya Ronie.
"Ku
pikir terlalu awal untuk menunjuk seseorang mengingat sangat sedikit bukti yang
kita dapat. Bila ada yang ingin aku curigai itu adalah dirimu." Jawabku
lagi.
"Selera
humor mu buruk James. Lagi pula untuk apa kau mencurigaiku?" Tanya Ronie
sambila sedikit tertawa.
"Aku
curiga bahwa kau tidak percaya bahwa aku akan menemukan pelakunya." Jawabku.
"Hahaha
bukan begitu James. Kau tahu? Semua berfikir kasus ini sangat membingungkan.
Tidak ada satupun bukti DNA si pelaku yang tertinggal. Hanya ada jejak kaki
misterius seorang anak kecil. Pembunuhan ini seperti dilakukan oleh
hantu." Ujar Ronie sambil mengepulkan rokok yang baru dibakarnya.
"Kau
tahu? Setiap kasus yang ku tangani selalu ada pelaku berbentuk manusia jika kau
bilang ini hantu maka aku tidak percaya karena tidak pernah ada hantu di setiap
kasus yang ku tangani." Jawabku.
Kami
kembali terdiam dan menunggu masing-masing untuk bicara namun tak ada yang
menyebutkan satu kata pun kali ini. Hingga akhirnya Handphone Ronie pun
berdering. Ronie mengangkatnya dan berbicara bahwa ia sedang bersamaku di cafe.
Ternyata ia mendapat panggilan ke kantor.
Ronie
mematikan rokoknya dan memasukannya ke dalam asbak yang tersedia di meja cafe
tersebut.
"Aku
pergi dulu. Malam ini mungkin kau harus menginap dirumahku. Ku rasa aku cukup
takut untuk tinggal sendiri malam ini." Ujar Ronie sambil berdiri dan
melangkah pergi.
Aku
terdiam dan hanya menatap ke arah asbak di meja kami yang kosong. Lalu melihat
kesamping meja kami dan ada seorang anak kecil dan ibunya yang sedang sarapan.
Mungkin aku juga harus kembali ke kantor.
Ditunggu chap 3 nya. hihihi
BalasHapusJM