Rabu, 16 Desember 2015

Killer Boy (Chapter I)

Killer Boy
(Chapter I)

Sudah sepuluh korban yang meninggal sampai hari ini. Aku sebagai detektif yang menangani kasus ini belum bisa memprediksi siapa dalang dari pembunuhan ini. Setiap korban tidak berhubungan sama sekali. Ketika aku mencari info dari setiap korban aku tidak menemukan satupun yang saling mengenal atau berdekatan jarak rumahya. Si pembunuh melakukan hal yang sama pada setiap korbannya. Korban ditemukan dalam keadaan mati dengan kedua lubang di dadanya yang langsung mengarah ke paru-paru dan juga ditemukan banyak puntung rokok di dalam paru-parunya. Selain itu setiap mayat terlihat tidak berambut atau botak. Rambut mereka seperti dicabuti oleh si pelaku.
Hari ini aku sedang berada tempat kejadian pembunuhan ke sepuluh. Kali ini seorang laki-laki gemuk yang bekerja menjadi pegawai negeri yang menjadi korbannya. Ditemukan luka yang sama disekujur tubuh korban. Kedua lubang di dada yang langsung menuju ke paru-paru, puntung rokok di paru-paru dan seperti biasa rambut yang dicabuti oleh si pelaku. Selesai melakukan penyelidikan aku keluar dari tempat kejadian dan melihat para polisi sedang berdiskusi di luar tempat kejadian. Aku menyapa mereka dan bertanya "bagaimana menurutmu dengan kasus ini?". "Mungkin pelakunya adalah psikopat yang iseng melakukan pembunuhan. Kau tahu banyak psikopat yang melakukan pembunuhan sebagai hobi mereka." Jawab salah satu dari mereka. "Ku pikir tidak begitu. Jika seorang psikopat yang melakukannya pasti pembunuhan ini terjadi dengan jarak yang berdekatan. Ya maksudku selain berdekatan antara korban juga berdekatan dengan pelakunya. Para psikopat cenderung membunuh orang yang tinggal dekat dengannya agar lebih mudah." Ujarku. "Mungkin psikopat yang satu ini cukup pintar. Ia melakukan pembunuhan berjauhan agar tidak diketahui oleh polisi atau warga sekitarya. Jawab polisi itu lagi. "Baiklah kita lihat seberapa pintar dia." Jawabku.
Aku beranjak pulang dan mulai berfikir tentang siapa sebenarnya pelakunya. Disetiap kejadian semua pintu dan jendela selalu terkunci rapat dari dalam. Hanya ditemukan jejak kaki anak kecil yang berasal dari kolong ranjang korban atau kolong meja dan bangku di beberapa kasus. Bagaimana anak kecil ini bisa masuk? Dan jika memang anak tersebut mempunyai otak yang pintar untuk menghapus jejak kaki di lantai rumah mengapa ia tidak menghapus jejak kakinya yang berasal dari kolong tempat tidur atau kolong bangku dan meja. Ataukah ini hanya sebuah tipuan dari sang pelaku untuk membuat bingung para tim penyelidik.

Handphone ku berdering dan ternyata sahabatku Ronie dari tim otopsi menelponku. "Hai james? Aku menemukan sesuatu yang janggal. Kau ingat diparu-paru setiap korban terdapat puntung rokok?". "Ya aku ingat." Jawabku. "Ternyata jumlah di setiap mayatnya sama. Ada 100 puntung rokok". Ujar Ronie.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar