Selasa, 22 Desember 2015

Lari

Lari
(Riddle)
(Andre Hernanda)


Aku sangat takut. Ada banyak orang bergerombol membawa senjata tajam yang masuk kerumahku. Sepertinya mereka ingin membunuhku. Lalu aku lari dan bersembunyi di dapur. Ada banyak sekali perlatan memasak disini.

Hahaha syukurlah. Mereka tidak akan mungkin membunuhku.

Senin, 21 Desember 2015

Killer Boy (Chapter II)

Killer Boy
(Chapter II)

Kini sudah jam tiga pagi. Mengapa aku tidak bisa terbenam dalam tidur walau hanya satu kedip. Aku hanya terus berfikir dan terduduk di hadapan meja kerjaku. Kugambar sketsa tiap rumah korban yang menjadi tempat terjadinya pembunuhan tersebut. Seluruh pengalamanku seperti tidak berarti disini. Bagaimana bisa tempat kejadian begitu bersih sehingga tidak ada siapapun yang berhak disalahkan. Mataku mulai berat dan akhirnya tertidur tanpa ku sadari.
Handphone ku kembali berbunyi pada pagi harinya. Ronie menelponku lagi.
"James.. Apa kau ada waktu?"
"Untuk apa? Aku punya satu abad lagi jika kau ingin membahas tentang kasus ini. Jika kau hanya ingin bersantai aku hanya punya 1 jam." Jawabku.
"Hahaha. Bagaimana kalau keduanya? Aku tunggu kau dicafe biasa untuk sarapan." Ajak Ronie

"Baiklah. Aku juga agak lapar. Aku tiba disana 30 menit lagi." Jawabku.
Aku sudah tiba di cafe itu 25 menit setelahnya. Ronie sepertinya belum hadir disana. Hingga akhirnya aku berjalan masuk ke cafe dan memesan satu cangkir kopi hitam beserta donat coklat. Ku lihat jam tanganku dan ternyata sudah pukul tujuh pagi. Cafe pagi ini cukup ramai dan aku memilih satu meja berkursi dua yang berada diluar cafe. Sengaja aku tak memilih meja didalam cafe karena Ronie adalah seorang perokok aktif. Nantinya dia akan mengepulkan asap rokoknya sambil menghirup kopi yang dia pesan.
Aku menunggu disana hingga akhirnya Ronie datang 5 menit kemudian. Dia melambaikan tangan ke arah ku lalu segera masuk ke dalam cafe. Setelah beberapa saat dia keluar dari dalam cafe lalu berjalan ke arahku kemudian duduk tepat dihadapanku.
"Kini apa kesimpulanmu James? Kau tahu? Kepolisian menunggu keputusan dari dirimu. Kau yang menyelidiki kasus ini dan berarti kau yang harus mengatakan siapa yang bersalah. Tentunya dengan bukti yang jelas dan masuk akal." Ujar Ronie.
"Lalu kau berfikir aku menyembunyikan sesuatu? Jika aku mengetahui sesuatu pastilah kau yang paling awal aku beri tahu." Jawabku.
"Hahaha maaf. Mungkin terlalu cepat ya untuk menarik kesimpulan. Aku akan bertanya yang lain saja. Lalu siapa yang kau curigai?" Tanya Ronie.
"Ku pikir terlalu awal untuk menunjuk seseorang mengingat sangat sedikit bukti yang kita dapat. Bila ada yang ingin aku curigai itu adalah dirimu." Jawabku lagi.
"Selera humor mu buruk James. Lagi pula untuk apa kau mencurigaiku?" Tanya Ronie sambila sedikit tertawa.
"Aku curiga bahwa kau tidak percaya bahwa aku akan menemukan pelakunya." Jawabku.
"Hahaha bukan begitu James. Kau tahu? Semua berfikir kasus ini sangat membingungkan. Tidak ada satupun bukti DNA si pelaku yang tertinggal. Hanya ada jejak kaki misterius seorang anak kecil. Pembunuhan ini seperti dilakukan oleh hantu." Ujar Ronie sambil mengepulkan rokok yang baru dibakarnya.
"Kau tahu? Setiap kasus yang ku tangani selalu ada pelaku berbentuk manusia jika kau bilang ini hantu maka aku tidak percaya karena tidak pernah ada hantu di setiap kasus yang ku tangani." Jawabku.
Kami kembali terdiam dan menunggu masing-masing untuk bicara namun tak ada yang menyebutkan satu kata pun kali ini. Hingga akhirnya Handphone Ronie pun berdering. Ronie mengangkatnya dan berbicara bahwa ia sedang bersamaku di cafe. Ternyata ia mendapat panggilan ke kantor.
Ronie mematikan rokoknya dan memasukannya ke dalam asbak yang tersedia di meja cafe tersebut.
"Aku pergi dulu. Malam ini mungkin kau harus menginap dirumahku. Ku rasa aku cukup takut untuk tinggal sendiri malam ini." Ujar Ronie sambil berdiri dan melangkah pergi.

Aku terdiam dan hanya menatap ke arah asbak di meja kami yang kosong. Lalu melihat kesamping meja kami dan ada seorang anak kecil dan ibunya yang sedang sarapan. Mungkin aku juga harus kembali ke kantor.

Rabu, 16 Desember 2015

Square



Cerita ini gw ambil dari blog lain






“SQUARE”

(SEGI EMPAT)



Alkisah, lima orang pendaki gunung tersesat di tengah pegunungan bersalju (versi lain cerita mengatakan mereka merupakan korban selamat dari suatu kecelakaan pesawat). Karena tidak kuat, salah satu dari kelima pendaki itu akhirnya meninggal. Namun keempat temannya yang lain menolak meninggalkan jenazah teman mereka di tengah gunung dan memutuskan membawanya.

Hingga suatu saat di tengah badai salju, mereka menemukan sebuah pondok kayu.

Mereka bersyukur dan segera berlindung di dalam pondok kayu itu. Pondok itu berbentuk segiempat. Pondok itu tampak sudah tua, namun masih kokoh.

Celakanya, sama sekali tak ada penerangan di dalam pondok itu, sehingga mereka terpaksa menghabiskan malam dalam kondisi gelap gulita.

Mereka meletakkan jenazah teman mereka di tengah ruangan yang berbentuk segi empat itu.

Mereka mulai bercakap-cakap.

“Malam ini kita tidak boleh tidur. Bila kita tidur, bisa-bisa kita tidak bangun lagi.”

“Ya, aku tahu. Tapi bagaimana caranya? Bila kita tidak melakukan sesuatu, kita pasti akan tertidur.”

“Aku tahu, kita lakukan saja suatu permainan.” Usul salah satu teman mereka, masih dalam kondisi gelap gulita. Mereka sama sekali tak bisa melihat satu sama lain, jadi mereka tak tahu dengan siapa mereka berbicara dan siapa yang mengusulkan permainan itu.

“Permainan apa?”

“Begini, ruangan ini kan berbentuk kotak. Bagaimana jika masing-masing dari kita berempat berdiri di tiap pojok ruangan. Nah, saat permainan dimulai, salah satu dari kita berlari ke pojok ruangan terdekat dan menepuk punggung temannya yang ada di situ. Lalu ia yang ditepuk punggungnya harus berlari lagi untuk menepuk punggung temannya yang ada di pojok terdekat dengannya. Begitu terus hingga kembali ke orang pertama dan diteruskan sampai fajar tiba.”

“Itu ide bagus,” semua orang tampaknya setuju, “Dengan begitu kita akan bergerak semalaman dan tubuh kita akan terasa hangat.”

Akhirnya mereka melakukan permainan itu. Masing-masing dari mereka, sebut saja A, B, C, dan D berdiri di pojok ruangan. A mulai berlari ke B dan menepuk pundak B. B kemudian langsung berlari dan menepuk pundak C. C lalu berlari menepuk pundak D. Dan begitu seterusnya, mereka melakukan permainan itu hingga pagi.

Saat pagi tiba, mereka mulai merasa lega. Cahaya mulai menerangi seluruh ruangan sehingga mereka bisa melihat seisi ruangan. Salah satu teman mereka rupanya mengenali tempat ini dan tahu jalan keluar dari tempat itu.

Namun saat mereka menyadari bentuk ruangan yang mereka tempati sejak semalam, mereka mulai sadar ada yang tidak benar.

Lalu mereka mulai ketakutan.

Permainan itu ternyata tak sesimpel yang mereka duga.



Permainan dimulai ketika A berlari dan menepuk pundak B. B kemudian berlari menepuk pundak C. Lalu C berlari menepuk pundak D. Sampai di sini tak ada masalah. Namun ketika D berlari ke A, semestinya tak ada orang di sana, sebab A sudah berada di B. Benar bukan? Sehingga D harus berlari 2 kali agar dapat menepuk pundak A.

Namun saat mereka bermain, tak ada seorang pesertapun yang harus berlari dua kali.

Saat tiba di A, D menepuk pundak seseorang yang kemudian berlari menepuk pundak A yang sedang berada di B.

Merekapun sadar, permainan ini walaupun dilakukan di ruangan berbentuk segi empat, tak bisa dilakukan oleh empat orang.

Permainan ini harus dilakukan oleh lima orang.

Namun mereka hanya ada berempat saat mereka melakukan permainan itu.

Lalu mereka menatap jenazah teman mereka yang terbujur kaku di tengah ruangan.

Ya, mereka tak hanya berempat di dalam ruangan.

Mereka berlima.

Rumah Nenek

Rumah Nenek
(Cerita ini adalah sebuah Riddle)
(Andre Hernanda

Suatu hari aku pergi kerumah nenekku disebuah desa. Aku pergi bersama ayah dan ibuku. Setiap aku main kerumah nenekku aku selalu penasaran dengan sebuah ruangan yang tertutup rapat. Nenekku tidak pernah membolehkanku masuk kesana. Tapi aku sangat penasaran dengan ruangan tersebut.

Akhirnya aku nekat masuk kedalam ketika nenekku sedang tertidur. Ku buka pintu dengan pelan dan segera masuk. Disana sangat kotor dan ada sebuah kasur yang berdebu. Ada sebuah cermin kecil di atas kasur itu. Aku mengangkat dan melihat cermin itu. Di cermin itu hanya terpantul pintu masuk yang ada tepat dibelakangku. Aku panik dan langsung berlari keluar dari sana. Ketika keluar nenekku ternyata masih tertidur. Untung aku selamat.

Killer Boy (Chapter I)

Killer Boy
(Chapter I)

Sudah sepuluh korban yang meninggal sampai hari ini. Aku sebagai detektif yang menangani kasus ini belum bisa memprediksi siapa dalang dari pembunuhan ini. Setiap korban tidak berhubungan sama sekali. Ketika aku mencari info dari setiap korban aku tidak menemukan satupun yang saling mengenal atau berdekatan jarak rumahya. Si pembunuh melakukan hal yang sama pada setiap korbannya. Korban ditemukan dalam keadaan mati dengan kedua lubang di dadanya yang langsung mengarah ke paru-paru dan juga ditemukan banyak puntung rokok di dalam paru-parunya. Selain itu setiap mayat terlihat tidak berambut atau botak. Rambut mereka seperti dicabuti oleh si pelaku.
Hari ini aku sedang berada tempat kejadian pembunuhan ke sepuluh. Kali ini seorang laki-laki gemuk yang bekerja menjadi pegawai negeri yang menjadi korbannya. Ditemukan luka yang sama disekujur tubuh korban. Kedua lubang di dada yang langsung menuju ke paru-paru, puntung rokok di paru-paru dan seperti biasa rambut yang dicabuti oleh si pelaku. Selesai melakukan penyelidikan aku keluar dari tempat kejadian dan melihat para polisi sedang berdiskusi di luar tempat kejadian. Aku menyapa mereka dan bertanya "bagaimana menurutmu dengan kasus ini?". "Mungkin pelakunya adalah psikopat yang iseng melakukan pembunuhan. Kau tahu banyak psikopat yang melakukan pembunuhan sebagai hobi mereka." Jawab salah satu dari mereka. "Ku pikir tidak begitu. Jika seorang psikopat yang melakukannya pasti pembunuhan ini terjadi dengan jarak yang berdekatan. Ya maksudku selain berdekatan antara korban juga berdekatan dengan pelakunya. Para psikopat cenderung membunuh orang yang tinggal dekat dengannya agar lebih mudah." Ujarku. "Mungkin psikopat yang satu ini cukup pintar. Ia melakukan pembunuhan berjauhan agar tidak diketahui oleh polisi atau warga sekitarya. Jawab polisi itu lagi. "Baiklah kita lihat seberapa pintar dia." Jawabku.
Aku beranjak pulang dan mulai berfikir tentang siapa sebenarnya pelakunya. Disetiap kejadian semua pintu dan jendela selalu terkunci rapat dari dalam. Hanya ditemukan jejak kaki anak kecil yang berasal dari kolong ranjang korban atau kolong meja dan bangku di beberapa kasus. Bagaimana anak kecil ini bisa masuk? Dan jika memang anak tersebut mempunyai otak yang pintar untuk menghapus jejak kaki di lantai rumah mengapa ia tidak menghapus jejak kakinya yang berasal dari kolong tempat tidur atau kolong bangku dan meja. Ataukah ini hanya sebuah tipuan dari sang pelaku untuk membuat bingung para tim penyelidik.

Handphone ku berdering dan ternyata sahabatku Ronie dari tim otopsi menelponku. "Hai james? Aku menemukan sesuatu yang janggal. Kau ingat diparu-paru setiap korban terdapat puntung rokok?". "Ya aku ingat." Jawabku. "Ternyata jumlah di setiap mayatnya sama. Ada 100 puntung rokok". Ujar Ronie.

Selasa, 15 Desember 2015

KeyHole


Cerita ini gw ambil dari blog lain.










“KEYHOLE”




‘”LUBANG KUNCI”







Seorang pria datang ke sebuah hotel. Ketika check in, sang resepsionis memperingatkannya,



“Tolong jangan masuk ke kamar yang tak ada nomornya.”



Pria itu mengangguk dan segera mencari kamarnya yang bernomor 10. Saat itulah, ia melihat sebuah kamar tanpa nomor yang tadi dikatakan sang resepsionis. Karena penasaran, ia mengintip melalui lubang kunci untuk melihat apa isinya.



Ia hanya melihat seorang wanita tua berwajah pucat sedang duduk di tengah ruangan. Aneh sekali, seakan-akan seluruh kulit tubuh wanita itu berwarna putih, tidak seperti kulit manusia kebanyakan.



Tiba-tiba saja wanita itu menoleh dan menatapnya.



Karena ketakutan, iapun segera lari ke kamarnya.



Malamnya ia tak bisa tidur. Ia masih penasaran mengapa resepsionis itu memperingatkannya untuk menjauhi kamar itu. Dan mengapa pula kamar itu tidak diberi nomor?



Saking penasarannya, saat itu juga ia bangkit dari tempat tidurnya, mengendap-ngendap di lorong hotel, dan mengintip kamar itu sekali lagi melalui lubang kunci.



Namun yang ia lihat hanyalah warna merah.



Pria itu berpikir, mungkin wanita itu merasa terganggu karena ia tadi mengintipnya dan memutuskan untuk menutup lubang kunci dengan sesuatu yang berwarna merah.



Pria itupun kembali ke kamarnya untuk tidur.



Keesokan harinya saat akan check out, pria itu menanyakan mengapa kamar yang ia lihat kemarin tidak diberi nomor.



Resepsionis itupun bercerita dengan wajah sedih.



“Dahulu ada sepasang suami istri yang menginap di kamar itu. Suatu hari mereka bertengkar dan sang suami membunuh istrinya itu. Sejak kejadian itu, kami tak berani menyewakan kamar itu, jadi kami mencopot nomornya dan membiarkannya kosong.”



Pria itu pergi dan tertawa. Ia sama sekali tak percaya dengan cerita hantu. Yang ia lihat kemarin jelas-jelas manusia dan bukan hantu.



“Oya,” sang respsionis berkata ketika pria itu hampir sampai di ambang pintu.



“Wanita itu tidak seperti manusia kebanyakan. Ia menderita kelainan genetik sehingga seluruh kulit tubuhnya putih.”



Langkah pria itu terhenti.



Sang resepsionis mengakhiri ceritanya.



“Dan matanya merah.”

Acara Pramuka

Acara Pramuka

(Andre Hernanda)


Aku adalah seorang pelajar SMP. Saat itu aku bersiap untuk sebuah acara pramuka di sekolahku yang diadakan saat malam. Orang tuaku sedang pergi jadi ya terpaksa aku harus pergi membawa adikku.
Sepeda mulai ku kayuh menuju sekolah. Adikku hanya terdiam dibelakangku. Aku membonceng adikku untuk sampai ke sekolah. Jalanan begitu sepi ketika itu padahal baru jam tujuh malam. Aku mengayuh cepat sepedaku karena tidak ingin membuat masalah lagi. Bagaimana tidak aku sudah membuat masalah yang cukup berat dengan membawa adikku ke acara pramuka nanti. Hingga akhirnya aku sampai disebuah gang disebelah sekolahku. Banyak kabar angin bahwa sering terjadi kecelakaan disini padahal hanya sebuah gang. Aku tetap melaju cepat padahal sedang berada disebuah gang. Hingga ada sebuah batu yang menghantam ban sepedaku namun aku tidak peduli. Aku terus mengayuh cepat sepedaku hingga aku akhirnya sampai di sekolahku.
Disini sangat ramai oleh anggota pramuka lainnya. Aku terus mengikuti acara yang kebanyakan diliputi acara baris berbaris hingga selesai pukul sembilan. Sebelum pulang aku mengobrol dengan teman-temanku hingga pukul sepuluh. Setelah itu kami berpamitan dan aku mengambil sepedaku lalu kembali pulang. Di gang sebelah sekolah ku ternyata sedang ramai hingga aku harus mengambil jalan memutar yang cukup jauh. Tidak apa-apa pikirku. Yang penting aku harus segera sampai dirumah lalu pergi tidur. Ketika sampai dirumah ternyata orang tuaku sudah menungguku dengan air mata yang bercucuran. Apa masalahnya pikirku. Aku hanya pergi selama 3 jam dan mereka sampai menangis karena merindukanku.

Ah sudahlahh aku harus bergegas. Aku berjalan masuk kedalam rumah dan mengelus rambut adikku yang sedang berdiri menatapku didepan rumah. Lalu segera menuju kamar mandi. Ketika diruang tamu aku melihat adikku sedang tertidur ditemani kedua orang tuaku yang sedang duduk didekatnya. Aku langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu. Baiklah ini salahku...

Senin, 14 Desember 2015

Salam kenal...

Blog baru ini gw buat untuk mengisi keisengan gw. Ya pokonya ntar gw isi banyak karya gw.
Dari mulai cerpen, novel, riddle, atau cerita serem yang gw bikin sendiri. Gw juga akan memuat karya orang lain jika emang bagus.
Gw mengharapkan respon dari kalian semua. Mau negatif atau positif gw terima ko.
Thanks all