Killer Boy (Chapter III)
Hah??? Ini sangat mengejutkan. Kini kami mendapat satu petunjuk yang sangat membingungkan. Jejak kaki disetiap kejadian hanya cocok oleh satu sidik jari kaki. Itu adalah milik Roy. Seorang anak yang telah meninggal karena kanker paru-paru. Tapi apakah ini? aku sungguh tak percaya dengan teori takhayul seperti ini. Apa motif Roy yang sudah mati untuk melakukan ini? Lagi pula harusnya orang yang sudah meninggal tak mampu melakukan ini.
Kini aku sudah berada dirumah Ronie. Walau sepertinya dia belum pulang dari kantor. Tapi aku bisa masuk kerumahnya karena kunci rumahnya telah diberikannya saat dikantor tadi. Sudah 2 jam aku sendiri di dalam. Menunggu di ruang tamu Ronie yang kelihatan sangat sepi. Hingga akhirnya Ronie mengetuk pintu lalu masuk. "Aku sangat lelah. Aku akan tidur. Kau bisa tidur dikamar tamu ku James. Biar ku antar." Ujar Ronie. Kini aku sudah berada di kamar tamu milik Ronie. Semua terasa sunyi hingga akhirnya aku tenggelam dalam gelapnya dunia bawah sadarku.
"James!!! Tolong Aku!!! James!!!". Teriak suara keras dari kamar Ronie. Setelah terbangun dalam cengkraman kepanikan. Aku bergegas berlari menuju kamar Ronie hingga akhirnya terjatuh di depan pintu kamar Ronie. Dengan posisi duduk bersender ke dinding, aku melihat Ronie yg terbaring dilantai kamarnya. Dihadapannya ada sebuah meja. Tunggu... Ada sesuatu tepat dikolong meja tersebut. Sosok seram berwajah putih namun tak berambut. Matanya berwarna merah dan dengan tatapan yang tajam menjurus kepada Ronie. Aku mencoba bangkit menolong Ronie hanya saja tubuhku sangatlah berat. Sosok itu kini merangkak menuju Ronie dengan nafas yang sangat sesak. Setelah merangkak sekitar satu meter barulah terlihat bahwa ia mengenakan kaus putih dan celana pendek berwarna hitam. Ia juga menggenggam sebuah pisau.
Sosok itu mulai dekat dengan Ronie dan akhirnya berada diatasnya. Ia mulai mencabuti satu persatu rambut Ronie disertai dengan teriakan keras serta tangisan oleh Ronie. "Ampuni dia Roy. Apa salah dia?" Teriakku. Sosok itu tersengal-sengal lalu berkata. "Ampuni? Dia bahkan tidak mengampuni paru-paru anak kecil di cafe itu dan bahkan ia tidak mengampuni paru-parumu. Jadi mengapa aku harus mengampuni orang yang meracuni manusia yang berada disekitarnya?" Setelah selesai dengan rambut kini ia membuat lubang di dada Ronie dan mengakhiri jeritan serta rasa sakit Ronie. Kini Ronie teman baik ku telah kehilangan hartanya yang paling berharga yaitu nyawa. Sosok itu mulai memasukan puntung rokok yang tanpa kusadari berada di kantung celananya kedalam paru-paru Ronie. Kini terungkap sudah pelaku pembunuhan berantai.
Setelah selesai dengan Ronie ia menuju kearahku lalu membelai rambutku dan berkata. "Kasihan... Kau hanya korban." Lalu merangkak kearah meja tadi lalu hilang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar