Kamis, 31 Maret 2016

Guling

Aku sedang berbaring di tempat tidur sambil memeluk guling. Aku sangat menyayangi guling ini lantas memeluknya erat-erat hingga kusadari wajah guling ini berubah menjadi biru dan terdengar suara sesak.

Killer Boy (Final)

Killer Boy (Final)

Kini aku berada di pemakaman Ronie. Aku datang setelah acara pemakaman selesai. Aku yang hanya bisa menahan tangisanku kini tumpah meluah di hadapan makam Ronie. Kini tidak ada lagi sahabat yang akan menenangkan ku. Aku juga sangat shock ketika mengingat tentang kematian Ronie. Banyak orang berpikir aku sudah kehilangan akal sehat. Namun apakah mereka berpikir apa yang sudah aku rasakan disini? Kini aku menjauhi para perokok. Penyelidikan ku sudah selesai.
Roy mati karena kanker paru-paru stadium akhir. Di akhir hayatnya rambut Roy dalam keadaan rontok parah. Roy memang anak yang lemah dalam hal melawan penyakit. Dalam catatan medisnya Roy sangat sering masuk rumah sakit. Diduga kanker paru-paru Roy disebabkan oleh ayahnya yang perokok sangat aktif. Dirumah ayahnya selalu merokok tanpa mempedulikan Roy. Ayah Roy tidak mengetahui bahwa asap rokok dapat membuat Roy dalam bahaya. Roy meninggal setelah seratus hari dirawat dirumah sakit sama seperti jumlah rokok disetiap paru-paru korban yang berjumlah seratus. Setelah dilakukan penelitian pada mayat setiap korban lebih lanjut. Ternyata setiap rokok di paru-paru korban bermerek sama dengan rokok yang korban gunakan. Jadi dapat disimpulkan puntung rokok yang berada di paru-paru korban adalah rokok yang telah korban gunakan. Menurutku Roy mengambil rokok puntung rokok korban ketika selesai merokok tanpa terlihat karena ia bukanlah manusia. Seperti saat aku bersama dengan ronie di cafe. Puntung rokok yang telah Ronie matikan dan letakan di asbak tiba-tiba menghilang.
Setelah dari makam Ronie aku pergi ke cafe tempat biasa aku bertemu Ronie. Aku berjalan masuk ke dalam dan memesan menu yang sama dengan saat kematian Ronie. Setelah duduk di bangku yang sama aku menyantap donat dan kopi yang telah ku pesan. Tepat di meja depanku terlihat laki-laki yang kurus dan sedang mengepulkan asap diwajahnya. Disebelah laki-laki itu ada seorang anak kecil yang bersama ibunya. Aku berjalan mendekatinya lalu berkata kepada orang itu. "Senang dapat bertemu denganmu, kunjungilah anak-anakmu dan istrimu aku yakin dia akan merindukanmu."

Rabu, 30 Maret 2016

Suami

Sudah 5 tahun aku berumah tangga dengan suamiku.
Namun 2 tahun ini ia tidak mau berbicara kepadaku.
Ia hanya menatapku dengan dingin setiap aku mengambil es di freezer.
Dasar laki-laki tak tahu diri lanjutku sambil menciumnya di dalam freezer.

Tetangga

Dasar tetangga sialan dia selalu saja menatapku dengan penuh amarah.
Aku sangat benci orangitu. Hingga kini aku masih bisa melihat tatapan matanya dibalik botol didalam kamarku.

Selasa, 29 Maret 2016

Karate

Aku sedang menjalani pertandingan karate.
Semua serangan dapat ku tangkis kecuali satu tendangan lawan kearah kepala yg merobek jahitan yg ku buat di leher hingga kepalaku menggelinding kebawah.

Jumat, 25 Maret 2016

Es campur (Riddle)

Aku adalah seorang wanita dan mempunyai pacar bernama Joni. Kini kita sedang berjalan bersama.Joni bilang es campur di dekat rumahnya itu enak.
Jadi aku dan Joni memutuskan untuk pergi dan makan es campur disana.
Wahh es campurnya terlihat lezat dengan sirup yg berwarna kemerahan khas sirup es campur dimanapun.
Tak lama kemudian aku sudah memasukan satu sendok ke mulutku. Rasanya enak sekali..
Tapii... tunggu... seperti ada rasa darah manusia disini. Tapi kenapa banyak yang tidak menyadarinya? Ahh yasudahlah sepertinya hanya dugaanku saja.
Joni pun mengajakku pulang kerumahnya. Baiklah aku akan sangat senang berdua dengannya.

Selasa, 22 Maret 2016

Killer Boy (Chapter III)

Killer Boy (Chapter III)

Hah??? Ini sangat mengejutkan. Kini kami mendapat satu petunjuk yang sangat membingungkan. Jejak kaki disetiap kejadian hanya cocok oleh satu sidik jari kaki. Itu adalah milik Roy. Seorang anak yang telah meninggal karena kanker paru-paru. Tapi apakah ini? aku sungguh tak percaya dengan teori takhayul seperti ini. Apa motif Roy yang sudah mati untuk melakukan ini? Lagi pula harusnya orang yang sudah meninggal tak mampu melakukan ini.
Kini aku sudah berada dirumah Ronie. Walau sepertinya dia belum pulang dari kantor. Tapi aku bisa masuk kerumahnya karena kunci rumahnya telah diberikannya saat dikantor tadi. Sudah 2 jam aku sendiri di dalam. Menunggu di ruang tamu Ronie yang kelihatan sangat sepi. Hingga akhirnya Ronie mengetuk pintu lalu masuk. "Aku sangat lelah. Aku akan tidur. Kau bisa tidur dikamar tamu ku James. Biar ku antar." Ujar Ronie. Kini aku sudah berada di kamar tamu milik Ronie. Semua terasa sunyi hingga akhirnya aku tenggelam dalam gelapnya dunia bawah sadarku.
"James!!! Tolong Aku!!! James!!!". Teriak suara keras dari kamar Ronie. Setelah terbangun dalam cengkraman kepanikan. Aku bergegas berlari menuju kamar Ronie hingga akhirnya terjatuh di depan pintu kamar Ronie. Dengan posisi duduk bersender ke dinding, aku melihat Ronie yg terbaring dilantai kamarnya. Dihadapannya ada sebuah meja. Tunggu... Ada sesuatu tepat dikolong meja tersebut. Sosok seram berwajah putih namun tak berambut. Matanya berwarna merah dan dengan tatapan yang tajam menjurus kepada Ronie. Aku mencoba bangkit menolong Ronie hanya saja tubuhku sangatlah berat. Sosok itu kini merangkak menuju Ronie dengan nafas yang sangat sesak. Setelah merangkak sekitar satu meter barulah terlihat bahwa ia mengenakan kaus putih dan celana pendek berwarna hitam. Ia juga menggenggam sebuah pisau.
Sosok itu mulai dekat dengan Ronie dan akhirnya berada diatasnya. Ia mulai mencabuti satu persatu rambut Ronie disertai dengan teriakan keras serta tangisan oleh Ronie. "Ampuni dia Roy. Apa salah dia?" Teriakku. Sosok itu tersengal-sengal lalu berkata. "Ampuni? Dia bahkan tidak mengampuni paru-paru anak kecil di cafe itu dan bahkan ia tidak mengampuni paru-parumu. Jadi mengapa aku harus mengampuni orang yang meracuni manusia yang berada disekitarnya?" Setelah selesai dengan rambut kini ia membuat lubang di dada Ronie dan mengakhiri jeritan serta rasa sakit Ronie. Kini Ronie teman baik ku telah kehilangan hartanya yang paling berharga yaitu nyawa. Sosok itu mulai memasukan puntung rokok yang tanpa kusadari berada di kantung celananya kedalam paru-paru Ronie. Kini terungkap sudah pelaku pembunuhan berantai.
Setelah selesai dengan Ronie ia menuju kearahku lalu membelai rambutku dan berkata. "Kasihan... Kau hanya korban." Lalu merangkak kearah meja tadi lalu hilang.